Skip to content

Kondisi Kesehatan Mental & Produktivitas Karyawan 2025: Krisis Kinerja Tersembunyi pada Tenaga Kerja di Asia Tenggara

Survei kesehatan mental karyawan terbaru dari Naluri mendapati lebih dari separuh karyawan berisiko tinggi pada kesehatan mental. Dampaknya terlihat dari ketidakhadiran—banyak yang tak masuk kerja 5 hari atau lebih dalam sebulan akibat kesehatan mental dan fisik yang buruk—serta kehadiran tanpa produktivitas, sebanyak 41% datang ke kantor namun tak bisa bekerja secara optimal, berkinerja di bawah potensinya, dan tanpa disadari merugikan perusahaan akibat hilangnya produktivitas yang tak kelihatan di laporan. Inilah krisis kinerja tersembunyi yang tengah terjadi di seluruh tenaga kerja Asia Tenggara saat ini.

Laporan Kondisi Kesehatan Mental & Produktivitas Karyawan 2025 menyajikan lebih dari 32.000 respons survei di enam negara untuk mengungkap bagaimana stres, kesepian, dan kerentanan kesehatan mental antar generasi saling berdampak dalam menurunkan produktivitas perusahaan—serta tindakan yang bisa dilakukan para pimpinan bisnis untuk mengatasinya.

WMHD 2025 Report cover (BI)-1
Unduh laporan ini untuk memahami:

  • Dampak langsung terhadap kinerja: bagaimana rasa cemas, depresi, dan stres masing-masing menurunkan kinerja, memicu tingkat ketidakhadiran yang tinggi, dan kehadiran tanpa produktivitas
  • Lonjakan rasa kesepian: mengapa karyawan kesepian kemungkinan 168% lebih besar terkena depresi berat dan 170% lebih besar mengalami stres tinggi
  • Kesenjangan kerentanan antar generasi: mengapa karyawan muda berkinerja buruk saat kesehatan mental mereka terganggu, dan apa artinya hal ini seiring Generasi Z dan Milenial menjadi mayoritas tenaga kerja
  • Konsekuensi tak adanya tindakan: contoh memperlihatkan bagaimana risiko kesehatan mental berdampak pada estimasi kerugian produktivitas sebesar USD 705.000 per tahun bagi perusahaan beranggotakan 2.000 orang
  • Rangka kerja empat lapis bagi pemberi kerja: rekomendasi praktis mencakup dukungan individu, pemberdayaan manajer, tata kelola perusahaan, dan kesejahteraan fisik-mental yang terpadu