Skip to content

Ekonomi Baru untuk Kesejahteraan di Tempat Kerja di Asia Tenggara

Atasi kenaikan premi asuransi kesehatan dengan pendekatan berbasis data yang memberi hasil kesehatan terukur dan keuntungan finansial.

White paper report cover (BI)

Inflasi medis di Asia Tenggara diprediksi mencapai 14% di tahun 2026, dengan biaya perawatan kesehatan langsung naik dua kali lipat setiap lima tahun. Buruknya kesehatan karyawan juga bikin produktivitas turun dan tingkat turnover naik, bahkan bisa sampai 17% dari gaji tahunan. Akar masalahnya lebih dalam dari sekadar kenaikan premi, sebab penyakit kronis mahal seperti diabetes dan hipertensi mulai menyerang karyawan lima tahun lebih awal dalam karir mereka, dan kesehatan mental yang buruk bikin risiko kena penyakit itu naik sampai 300%.

Hanya 5% karyawan yang menyumbang 50% klaim medis, program kesehatan tradisional yang prioritaskan keterlibatan ketimbang hasil gagal menjangkau populasi berisiko tinggi, membuat perusahaan terjebak dalam kenaikan biaya dan pemotongan manfaat secara reaktif.

Unduh buku putih ini untuk mencari tahu bagaimana organisasi meraih hasil kesehatan yang terukur dan ROI 5X dari investasi kesejahteraan:

  • Empat alasan gagalnya program kesejahteraan tradisional, membuat biaya tetap tinggi dan hasil kesehatan buruk

  • Bagaimana masalah kesehatan mental yang tak ditangani jadi biaya penyakit kronis yang mahal dalam hitungan tahun
  • Kerangka kerja strategis untuk kesehatan tenaga kerja melalui perawatan multidisiplin dan protokol perubahan perilaku berdasarkan bukti
  • Hasil nyata: Pengurangan 56% klaim untuk pasien penyakit kronis dan perbaikan terukur dalam produktivitas, retensi, dan absensi